Header Ads

Header ADS

Biografi Sahabat Nabi, Sa’ad Bin Abi Waqqash (1)

Sa’ad dilahirkan di Makkah, tumbuh besar dalam dekapan gurun-gurun dan lingkungannya. Ia tumbuh remaja dan menjadi seorang pemuda di antara gunung-gunung dan lembahnya. Jiwanya pun diwarnai oleh bersihnya langit Makkah, dan pendiriannya menjadi sekokoh gunung-gunung yang ditancapkan Allah mengelilingi Baitul Haram, dimana Sa’ad lahir di dekatnya. Kemauannya yang keras serta jiwa mudanya yang bergelora ditambah dengan kesibukannya dalam membuat anak panah yang seringkali dibeli oleh para petarung yang terhormat. Dan betapa banyak mereka saat itu! Begitu juga para penembak jitu dan mereka yang gemar berburu. Pengalaman ini memberinya kemampuan yang hebat dalam membuatnya dan sekaligus keinginan untuk menggunakan dan melemparnya. Ditambah lagi bahwa hal itu sekaligus menjadi latihan baginya untuk berperang dan menghadapi pertempuran.  
Sa’ad mewarisi sifat-sifat ibunya yang keras dan tegas, hingga kekerasan dan ketegasan yang ia miliki pun menjadi semakin kuat. Hamnah, ibu Sa’ad adalah seorang yang sangat penyabar dan keras, mempunyai kemauan yang kuat, kepribadian yang kokoh, dan sangat kuat mempertahankan keinginannya. Hingga ia mampu memaksakan kehendaknya kepada anaknya. Dan saat itu tidak ada satupun yang bisa menggoyahkan tekadnya, ataupun meruntuhkan kesabarannya, selain tekad yang dimiliki oleh putranya Sa’ad ketika masuk Islam, dan ia memaksanya untuk meninggalkan agamanya. Ia juga mengancam untuk tidak makan dan minum. Dan ini benar-benar dilakukannya hingga keadaannya menjadi sangat lemah. Sa’ad memilih untuk tetap berpegang pada agamanya, dan menempuh jalan yang telah dipilihnya. Akhirnya sang ibu menyadari bahwa tidak ada lagi cara untuk memaksa Sa’ad mundur dari agamanya, dan ia pun mengundurkan diri dari medan perang sebagai pihak yang kalah di depan kesabaran putranya, dan di hadapan kekuatan iman yang dimilikinya. Ia pun kembali makan dan minum.

Sa’ad mewarisi dari sosok ibu tersebut, kekuatan tekad, kesabaran, dan kemauannya yang keras. Dengan demikian makin sempurnalah kepribadiannya sebagai seorang pemuda Quraisy dari Bani Zuhry yang tumbuh di Makkah. Kekuatan tekad seolah bertemu dengan kekokohan tumbuh di Makkah. Kekuatan tekad seolah bertemu dengan kekokohan fisik di dalam dirinya.   

Lalu Islam datang kepada pemuda ini dan membukakan pintu hatinya. Pemuda itupun tidak merasa ragu sedikitpun, ia segera menyambutnya dengan kemauan yang rasional, dan maju memasuki taman-tamannya. Ia menemukan apa yang ia cari, dan sekaligus menemukan tujuannya. Agama baru ini pun mengarahkan potensi kekuatannya, menerangi langkahnya, dan memofokuskan seluruh potensinya untuk kebenaran. Jadilah ia seorang laki-laki mengagumkan, yang akan terus diceritakan oleh zaman.
bersambung.....

Diberdayakan oleh Blogger.