Terbaru

Hati Gersang Karena Iman telah Usang

Iman seorang hamba bukanlah sesuatu yang bersifat stagnan. Ia bisa turun, bisa juga naik. Seumpama ia bagaikan pohon yang ditelantarkan, makin layu daunnya, kian rapuh batangnya dan tidak mustahil akarnya akan tercabut dari tanahnya. Begitulah, perjalanan iman tergantung pada cara merawat dan melestarikannya. Hanya saja proses lunturnya iman umumnya berbeda dengan keadaan saat ia datang. Iman yang datang biasanya langsung meningkat tajam, tapi ketika turun dan lapuk secara perlahan. Bahkan, seringkali pemiliknya tidak merasakan, tidak pula bisa mendeteksi terkikisnya iman yang sedikit demi sedikit itu. Ini yang sebenarnya berbahaya!

Saat kita kehilangan gairah untuk melakukan ketaatan, tidak pula bergegas menyambut tawaran pahala yang dijanjikan Allah dan Rosul-Nya, jangan-jangan iman kita mulai usang. Karena lemahnya iman ditandai dengan lemahnya kemauan seseorang untuk menjalankan ketaatan. Iming-iming menggiurkan pahala di akhirat tidaklah membuat seseorang yang lemah iman bersegera menyambut seruan itu.   

Ketika penyakit lemah iman mulai menjalar, perlahan-lahan kepekaan seseorang terhadap dosa kian menjadi tumpul. Penyakit ini juga menyebabkan penderitanya kehilangan imunitas, kekebalan ataupun proteksi hati dari segala dosa. Berita tentang siksa akhirat dan ancaman bagi pelaku dosa disikapi tak lebih dari sekedar informasi dan maklumat belaka. Bukan sebagai peringatan hingga ia mundur dan menjauh dari daerah larangan Allah yang berupa dosa dan maksiat. 

Mulailah setan beraksi menggoyahkan pendiriannya. Dengan alasan keumuman, suara mayoritas, adat yang dibiasakan meluas dipaksakan sebagai representasi suatu kebenaran. Apa iya ini dosa? Mengapa jika demikian banyak yang melakukannya? Kalau begitu berarti kebanyakan manusia masuk neraka?  Padahal kita semua tahu ukuran dosa atau bukan dosa bukanlah ditentukan oleh banyaknya orang yang melakukan. Bahkan, jika kita mengikuti kebanyakan orang tanpa ilmu bisa jadi kita malah tersesat. (QS.Al An’am : 116). Begitu cara setan mengikis bata demi bata dari benteng iman, sehingga bisa jadi perlahan-lahan runtuh secara keseluruhan. 

Agara Iman Sekokoh Karang
Sebagai insan biasa, terkadang seseorang merasakan kegersangan hati. Imbasnya, perlindungan diri dari perbuatan maksiat ikut melemah. Ibadah yang biasa dijalankan dengan khusyu’ mendadak hilang rasa nikmatnya. Sholat jama’ah, sholat sunah, shoum, majelis taklim dirasa sebagai beban. Padahal hakikatnya itu adalah kebutuhan seorang hamba. Jika kita merasakan fenomena tersebut menghampiri, kita harus segera sadar bahwa iman kita sedang melemah saat itu. Na’udzubillah.

Setiap muslim selayaknya memiliki kecerdasan dan kemampuan untuk memantau dan merasakan perubahan kondisi imannya. Apakah imannya sedang bertambah atau justru sedang berkurang. Iman kita memang tak sekuat Rasulullah, Abu Bakar, Umar ataupun sahabat lainnya. Karena itu, iman kita lebih perlu mendapatkan asupan nutrisi dan selalau dijaga stabilisasnya.

Ada beberapa langkah jitu untuk menjaga stabilitas keimanan kita. Monggo, bisa untuk dicoba!

Pertama, membaca dan tadabbur Al Qur’an. Sungguh, manfaat tadabbur Al Qur’an itu hanya bisa dirasakan oleh orang yang hatinya hidup, bukan hati yang sakit apalagi hati yang telah mati. Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah “Orang mukmin yang sehat hatinya siap menyimak seruan Al Qur’an, selalu berkonsentrasi mengikuti bacaannya dan tidak mau dialihkan dari memahami maknanya”.

Kedua, munajat dengan Allah di waktu malam. Yaitu dengan meluangkan waktu khusus untuk sholat, berdoa dan memohon kepada Allah. Sangatlah mengherankan jika seorang muslim tidak pernah melaksanakan sholat malam. Sebab, sholat malam mendidik seseorang untuk khusyu’, rendah diri dan dekat dengan Allah. Oleh karena itu, qiyamul lail menjadi unsur seluruh syariat. Sungguh beruntung orang yang dimudahkan oleh Allah mampu menunaikannya dengan konsisten. (QS. Adz Dzariyat : 17-18)Pada saat itu, malam menjadi kenikmatan yang tiada tandingannya.

Ketiga, menambah ilmu agama dengan menghadiri majelis taklim. Jika seseorang sering absen dari majelis taklim, jauh dari lingkungan atau teman-teman yang shalih, maka grafik iman dapat merosot tajam. Karena itu, para sahabat Rasulullah sangat berbahagia jika bertemu dengan sahabatnya dan bernostalgia mengenang perjuangannya bersama nabi. Muadz bin Jabal sering mengatakan kepada para sahabat yang lain “Mari kita duduk-duduk meski hanya sebentar, mari kita tambah iman kita”.

Keempat, menjaga rutinitas amal shalih. Karena amal shalih adalah bahan bakar iman. Peningkatan kualitas dan kuantitasnya berbanding lurus dengan iman. Dalam beramal shalih prinsip yang diutamakan ialah lakukan segera dan jangan ditunda. (QS. Al Anbiya : 90). Hamba yang dicintai Allah adalah hamba yang beribadah dengan konsisten dan kontinyu. Bukan hamba yang beribadah kepada Allah di tepian saja. Atau hamba yang hanya ingat kepada-Nya saat susah saja, namun ketika mendapat kesenangan iapun lupa.

Sekilas

Hubungi Kami

Video

Video