Header Ads

Header ADS

5 Ulama ini Bujang hingga Akhir Hayat

Menikah merupakan ajaran yang dianjurkan dalam Islam. Bahkan, dalam kondisi tertentu, menikah merupakan sunah Nabi ketika kedua pasangan sudah merasa siap secara zahir dan batin. Ini sebagaimana sabda Nabi,“Wahai anak muda! Menikahlah jika kalian sudah sanggup, karena menikah dapat lebih menjaga pandanganmu dan nafsumu (dari perbuatan maksiat). Namun, jika kalian belum mampu, berpuasalah, karena puasa merupakan penawar syahwat,” (HR Bukhari).
Hadits tersebut menganjurkan siapa pun yang telah mampu zahir dan batin untuk bersegera menikah. Dari hadits tersebut, Imam an-Nawawi -yang termasuk ulama jomblo- memformulasi empat kesimpulan:
(1) sunah menikah, apabila kita sudah mampu finansial dan psikologis, dan kebetulan memiliki libido tinggi; (2) makruh menikah, apabila kita belum mampu secara finansial dan psikologis, dan tidak memiliki libido tinggi; (3) makruh menikah dan dianjurkan berpuasa apabila kita belum mampu secara finansial dan psikologis, dan memiliki libido tinggi; (4) lebih utama beribadah daripada menikah apabila mampu secara finansial dan psikologis, namun tidak terlalu memikirkan kebutuhan bilogis.
Dari empat kesimpulan di atas, bisa jadi ulama yang men-jomblo kemungkinan besar memilih pendapat yang keempat. Mereka lebih memilih berkarya daripada menikah. Berikut 5 ulama yang memilih men-jomblo, namun memiliki karya yang spektakuler dan monumental:

1. At-Thabari
Nama lengkapnya adalah Abu Ja’far Muhamad bin Jarir at-Thabari. Ia lebih dikenal dengan panggilan Imam Thabari. Ia lahir di kota Amol, Thabaristan pada tahun 224 Hijriyah. Dulu, kota tersebut bagian dari Persian. Saat ini, kota tersebut masuk dalam wilayah Iran. Kata Thabari merupakan nisbah pada daerah Thabaristan, tempat ulama ini dilahirkan.
Kitab Jamiul Bayan ‘an Wujuh Ta‘wil Ayil Qur‘an merupakan salah satu karyanya yang paling terkenal dan monumenal dalam bidang tafsir. Hingga akhir hayatnya, ia tidak menikah sama sekali. Ia wafat pada tahun 310 Hijriyah dan meninggalkan banyak karya dalam berbagai macam bidang keilmuan.

2. An-Nawawi
Yahya bin Syaraf an-Nawawi adalah nama aslinya. Ia merupakan ulama yang sangat produktif dalam berkarya. Ia lahir pada tahun 631 Hijriyah di Nawa. Kata An-Nawawi merupakan penisbatan pada daerah kelahirnya.
Nawa adalah salah satu desa yang berada di kota Damskus, Suriah (Syam), yang saat ini sedang terjadi konflik yang tidak henti-henti sejak 2011. Bahkan, tidak sedikit penduduk Suriah yang memilih menjadi imigran di berbagai negara Arab lainnya juga negara-negara Eropa.
Konon, makam Imam Nawawi terkena bom akibat konflik ini. Imam Nawawi yang bermazhab Syafi’i terkenal sebagai pakar fikih. Karyanya dalam bidang fikih di antaranya adalah Minhajut Thalibin wa ‘Umdatul Muftin dan al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab. Namun sayang, al-Majmu’ belum sempat dirampungkan olehnya, karena ajal terlebih dulu menjemputnya pada tahun 676 Hijriyah.

3. Az-Zamakhsyari
Ia lahir pada tahun 467 Hijriyah di Zamakhsyar, sebuah desa di Khawarizmi, terletak di wilayah Turkistan, Rusia. Namanya adalah Mahmud bin Umar az-Zamakhsyari. Karyanya yang paling fenomenal adalah al-Kasyaf fi Tafsir al-Qur‘an.
Menurut Ibnu Khalikan, dalam Wafayatul A’yan, Zamakhsyari berakidah Muktazilah. Bahkan, dia tidak segan-segan menyatakan sendiri bahwa dirinya adalah penganut paham Muktazilah. Ulama ini wafat pada tahun 538 Hijriyah di daerah Jurjan

4. Ibnu Taimiyah  

Ibnu Taimiyah dijuluki sebagai Syaikhul Islam (Pemuka Islam) yang memiliki nama lengkap Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam. Ia lahir pada tahun 661 Hijriyah di daerah Haran, Turki.  Ketika berusia 6 tahun, ia bersama keluarganya pindah ke Damaskus, dan banyak menimba ilmu di sini.
Di Indonesia, beliau dikenal sebagai pakar aqidah. Bahkan, ulama jomblo yang satu ini menjadi salah satu rujukan ulama’ kontemporer. Sebenarnya, ilmu keislaman lainnya pun beliau kuasai, bukan aqidah saja. Salah satu karyanya yang terkenal adalah al-Fatawa al-Kubra. Ia wafat di Damaskus pada tahun 728 Hijriyah.

5. Abu Ali al-Farisi
Ulama yang satu ini mungkin terdengar asing oleh sebagian santri atau mahasiswa secara umum. Namanya adalah al-Hasan bin Ahmad yang lahir pada tahun 288 Hijriyah di Fasa, Persia (Iran). Beliau merupakan pakar linguistik Arab klasik.
Bahkan, pakar linguistik Arab sekelas Ibnu Jini, yang menjadi rujukan linguistik Arab modern, berguru pada Abu Ali al-Farisi. Al-Idhah fin Nahwi dan Ta’liqah ‘ala Kitab Sibawaih merupakan beberapa karyanya dalam bidang linguistik Arab. Ulama ini meninggal pada tahun 377 Hijriyah, saat usianya yang ke 99.


Diberdayakan oleh Blogger.