Terbaru

'Dia' yang Sedang Terluka

Nahdlatul Ulama atau sering dikenal dengan istilah NU merupakan organisasi Islam terbesar nomor satu di Indonesia. Organisasi yang didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari ini resmi berdiri pada 31 Januari 1926. Sesuai dengan namanya, yaitu Nahdlatul Ulama yang dalam bahasa Indonesia berarti “Kebangkitan Ulama” maka organisasi ini didirikan dengan tujuan agar ulama di seluruh Indonesia bangkit memperbaiki keadaan bangsa Indonesia –khususnya umat Islam- yang sedang terpuruk kala itu.

Sayang, kini organisasi ini telah jauh melenceng dari tujuan pendirinya terdahulu. Menurut Habib Ahmad Zein Al Khaff yang merupakan Rais ‘Aam NU Jawa Timur, orang yang menjabat sebagai ketua NU saat ini yaitu Prof.DR.Said Aqil Sirodj lebih senang bermesraan dengan aliran perusak Islam semacam syiah dan liberal. Sehingga bisa ditebak mau dibawa kemana NU ini di bawah komandan Prof.DR.Said Aqil Sirodj.  
Prof.DR. Said Aqil Sirodj, MA
Kabar terbaru menyebutkan bahwa sang ketua NU beberapa waktu yang lalu sempat ‘curhat’ kepada Kapolri (Tito Karnavian). “Dedengkot Anus (Aliran Nusantara) Said Aqil Siraj yang beraliran liberal curhat ke Kapolri bahwa HTI anti-nasionalisme, dan FPI rusak citra Islam, serta MTA haramkan tahlil,” demikian tulis Imam Besar FPI Habib Rizieq Syihab sperti dilansir dalam situs www.habibrizieq.com.

Curhatan ini mendapat reaksi santai dari Habib Riziq Syihab –selaku imam besar FPI-. “Kapolri harus hati-hati dengan makhluk satu ini, karena inilah makhluq rasis fasis yang secara terang-terangan memfitnah syariat Islam sebagai ARABISASI. Kapolri harus diingatkan bahwa gara-gara makhluk satu ini juga banyak Kyai dan Santri serta Pesantren keluar dari NU, karena pemikiran dan perilakunya yang bertentangan dengan Aqidah Aswaja sebagai Jiwa NU.

Sementara itu ketua Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Rohmat S.Labib juga memberikan tanggapan atas disebutnya organisasi pimpinannya itu sebagai organisasi yang berbahaya bagi keutuhan NKRI. “Wong kita menyeru kepada Islam. Mestinya dia serukan dong itu para koruptor-koruptor itu, membahayakan yang jelas-jelas negara,” tegas Rohmat. Sedangkan ada satu pihak lagi yang disebut Said Aqil yang sampai saat ini belum memberikan tanggapan, yaitu Majelis Tafsir Al Qur’an (MTA).

Seakan tidak mau kalah dengan yang di pusat, beberapa anak cabang NU di daerah  juga melakukan hal serupa berupa penolakan beberapa pengajian yang diadakan oleh kelompok di luar mereka. Kelompok yang mereka klaim sebagai wahabi. Meskipun masih sama syahadatnya, sama nabinya sama juga cara sholatnya. Tapi mereka tetap getol menolak hanya kerena beberapa perbedaan dalam masalah furu'.  

Dari Banjarmasin, beberapa waktu silam tersebar surat yang ditandatanagi oleh Komandan Banser NU yang menyatakan menolak adanya pengajian yang akan menghadirkan DR.Khalid Basalamah dan DR.Syafiq Basalamah. Mereka beralasan bahwa kedua pembicara tersebut berasal dari kalangan wahabi yang dapat merusak keharmonisan warga nahdliyin.

Tercatat pula pada bulan Mei silam Banser membubarkan acara HTI yang dilaksanakan di Jember. Mereka menolak acara tersebut karena menolak slogan HTI yang memperjuangkan khilafah. Yang mana menurut mereka khilafah bertentengan dengan slogan “NKRI Harga Mati.”

Demikianlah, organisasi Islam terbesar yang seharusnya bisa mengayomi dan menyatukan berbagai organisasi Islam di Indonesia nyatanya mereka malah rajin tonjok sana-tonjok sini terhadap saudara seiman hanya karena perbedaan masalah furu’, bukan masalah aqidah. Miris memang!

Keadaan NU yang semakin hari semakin semrawut di bawah kendali DR.Said Aqil Siradj ini mengundang keprihatinan dari beberapa Kyai dan Habib di dalam tubuh NU sendiri. Mereka menuntut agar Said Aqil mundur dari kepemimpinan NU dan menuntut agar NU dikembalikan sesuai dengan cita-cita KH.Hasyim Asy’ari. Hingga tercetuslah sebuah gerakan untuk ‘mengobati’ NU yang kini dikenal sebagai Nahdlatul Ulama Garus Lurus (NUGL) dengan beliau KH.Idrus Ramli sebagai ketua.  



Sekilas

Hubungi Kami

Video

Video