Header Ads

Header ADS

Ngaku Toleran, Kenapa yang Tidak Mau Ikut TAHLILAN Diusir?


Nasib malang menimpa Yahya Dahlan (23). Warga desa Sampiran Blok Pelaosan Kabupaten Cirebon ini dipaksa pergi meninggalkan kampung halamannya lantaran dianggap mengikuti ajaran sesat. “Kami semua ada 9 orang. Karena tidak mau ikut ‘tahlilan’ warga menilai kami sesat bahkan sudah dianggap keluar dari Islam,” kata Yahya.
Dua hari lalu, saat tengah malam, Yahya digerebek oleh warga untuk segera meninggalkan desa tempat kelahirannya. “Tengah malam saat saya sedang tidur didatangi oleh warga, mereka minta agar saya dan kawan-kawan yang tidak mau ikut tahlilan untuk bertaubat atau keluar dari kampung,” ujarnya.
Di hadapan ratusan warga, Yahya dan beberapa kawan taklimnya disidang dan diminta untuk membaca ulang kalimat syahadat. “Saya dianggap sudah keluar Islam, karena itu warga dan kyai setempat meminta saya masuk Islam kembali dengan mengucapkan ulang syahadat, kalau tidak mengucapkan syahadat maka saya diminta pergi meninggalkan kampung,” terangnya.
Dari 9 orang yang dianggap mengikuti ajaran sesat itu, 2 diantaranya menuruti permintaan warga dengan mengucapkan syahadat. “Yang 2 teman saya mau mengucapkan syahadat, kalau saya tidak, karena saya merasa tidak murtad,” jelasnya.
Informasi yang beredar, Yahya dan kawan-kawannya menjadi pengikut aliran Assunnah. Padahal Assunnah bukanlah sebuah aliran, melainkan sebuah Yayasan Islam yang cukup bergerak dalam bidang dakwah dan pendidikan di Kota Cirebon. “Saya dibilang pengikut aliran assunnah oleh mereka,” tegasnya.

Lari ke Ponpes Assunnah
Melihat banyaknya tekanan dan intimidasi, Yahya dan kawan-kawannya pergi meminta pertolongan ke Ponpes Assunnah tempatnya menghadiri pengajian. Sekretaris Yayasan Assunnah, Diding Sobarudin, membenarkan bahwa 2 hari lalu Yahya dan kawan-kawannya datang ke lembaganya untuk mencari perlindungan. “Iya, mereka datang ke sini. Padahal mereka ini anak muda dan mereka berperilaku baik, tapi warga mengusirnya hanya lantaran mereka tidak mau ikut tahlilan,” ujar Diding.
Pihak Yayasan Assunnah sendiri mencoba memediasi masalah ini dengan mendatangi Polsek dan mengundang tokoh setempat. “Kami sudah coba mediasi di Polsek tapi gak ada yang datang dari pihak warga dan kyai,” terangnya.
Sampai saat ini pihak kepolisian belum menanggapi dengan serius sehingga akan melaporkan ke Polres. “Pihak warga masih ngotot mengusir Yahya dan kawan-kawannya, ini harus lapor ke Polres,” paparnya. Diding menyebutkan,Yahya dan beberapa kawan di desa tersebut dikenal baik dan tidak pernah bermasalah dengan warga setempat. “Mereka ini para pemuda yang baik, gak pernah ada masalah, hanya mereka tidak mau menghadiri tahlilan. Kepada masyarakat pun bersikap baik,”tegasnya. 
Seperti diketahui, Assunnah adalah Yayasan Islam di kota Cirebon yang telah berdiri sejak tahun 1994. Saat ini menaungi pendidikan formal jenjang TK,SD,MTS dan MA dengan jumlah siswa 1300 orang. Sungguh miris, justru mereka yang mengusir saudara seiman ini ternyata adalah mereka yang gemar mengaku sebagai ‘ahlussunah’ dan mengaku paling toleran dalam tubuh umat Islam. Pantaskah??? [gemaislam.com]   


Diberdayakan oleh Blogger.