Terbaru

Sepetik Hikmah Dari Aksi 212

Aksi 212 benar-benar menjadi ‘panggung pertunjukan’ yang seru. Ada gemuruh semangat yang ditunjukkan umat dalam membela Islam. Tapi ada pula oknum-oknum yang juga beragama Islam hanya karena seragam dinas yang dikenakan mereka justru memainkan peran antagonis.
Gemuruh semangat sudah mencuat sejak sepekan sebelum hari H. Umat Islam dari Ciamis memutuskan jalan kaki ke Jakarta sebagai bentuk protes dan perlawanan atas pelarangan disertai ancaman sistematis dari para oknum tersebut kepada perusahaan transportasi yang akan mengangkut mereka.
Aksi Ciamis ini akhirnya menjadi cambuk semangat bagi tempat lain. Berbagai daerah kemudian ikut menempuh segala cara untuk bisa sampai Jakarta. Melawan berbagai halangan dan intimidasi secara mandiri.
Apa sih yang ditakutkan dari aksi 212 ? Toh umat Islam hanya akan duduk menggelar sajadah, berdoa, mendengar orasi, dan endingnya shalat Jumat bersama. Tak ada rencana makar apapun, aksinya diberi label super damai. Tapi mengapa banyak oknum yang begitu sewot dan gerah?   

Drama ini tak sesederhana yang kita lihat. Di baliknya tersimpan berbagai rahasia kehidupan yang layak kita ungkap. Agar setiap fragmen kehidupan yang tersaji di depan mata bisa dipetik mutiara hikmah. Berikut ini beberapa mutiara di balik peristiwa 212: 

Pertama, drama ini menghasilkan dua golongan, yaitu pembela Al Quran dan penista Al Quran. Dalam kajian aqidah serupa dengan istilah tauhid vs syirik.  Tauhid berpondasi Tuhan yang satu, lalu memeluk agama yang satu, dan mengikatkan diri dalam loyalitas umat yang satu: umat Islam. Sementara syirik serba bhineka dalam segala hal, Tuhan siapa saja benar, agama apa saja betul, dan bersatu boleh dalam bingkai apa saja asalkan bisa tunggal ika. Publik seolah terpolarisasi dalam dua kutub.
Kedua, semangat bersatu umat Islam ini baru dalam soal yang amat spesifik: membela Islam yang dinista orang. Aksinya juga super damai. Meski demikian sudah membuat aqidah kebangsaan kebakaran jenggot. Apalagi jika umat bersatu dalam lebih banyak perkara, niscaya aqidah kebangsaan tak hanya sewot, tapi akan murka bahkan ngamuk sejadinya. Intimidasi baik halus maupun kasar terhadap para peserta aksi 212 dari berbagai daerah bisa dimaknai sebagai "uang muka" atau semacam early warning bahwa aparat siap untuk lebih represif jika poin persatuan umat Islam diperluas.
Ketiga, terbukti baju seragam coklat atau warna lain lebih kuat mengurung pemakainya dibanding Islam yang bersarang di hatinya.  Seorang muslim yang berseragam aparat, punya dua magnit kesetiaan yang beradu pengaruh di hatinya;  apakah lebih setia kepada Islam ataukah kepada seragam kebangsaan. Drama 212 menyibak kabut, mayoritas lebih setia pada seragam saat Islam dihina.
Keempat, ternyata Islam menyimpan daya panggil yang luar biasa, tak ada yang bisa menghalau. Keikhlasan jalan kaki ratusan KM dari Ciamis ke Jakarta menjadi contoh nyata, jika Islam yang memanggil tak akan ada yang bisa menghentikan. Sebaliknya aqidah kebhinekaan terbukti daya panggilnya lemah. Aqidah kebangsaan sangat khawatir dengan ledakan potensi ini.
Kelima, jika ingin tahu rasa gurihnya iman, silakan tanya kepada para peserta jalan kaki dari Ciamis ke Jakarta. Kaki letih tapi hati ada di puncak bahagia. Tanpa mencoba tak akan tahu rasanya. Tinggal Anda sendiri yang tentuka, di pihak mana Anda berdiri. Pembela Al Quran atau Penista Al Quran?




Sekilas

Hubungi Kami

Video

Video