Terbaru

LUKAMU, LUKAKU..

Dunia Islam kembali bergejolak. Perhatian semua mata tertuju ke sebuah negara bernama Myanmar, lebih tepatnya di daerah Rakhine. Di sana saudara-saudara sesama Muslim dibantai secara membabi buta. Umat Islam seluruh dunia pun rama-ramai mengecam. Bukan sekedar mengecam, mereka juga menggelar berbagi aksi sekaligus menggalang donasi untuk membantu saudara-saudara kita yang terdzalimi.
Hingga kini gejolak suku Rohingya masih terus terjadi. Pembantaian, penganiayaan hingga berbagai serangan masih terus berlangsung. Sobat, udah pada tau belum siapa sih itu Rohingya? Rohingya adalah nama sebuah suku Muslim yang mendiami wilayah Rakhine, bagian Arakan di negara Myanmar. Mereka ini sebenarnya udah lama berada di wilayah itu. Namun, keberadaan mereka nggak diakui secara sah oleh Pemerintah Myanmar yang mayoritas merupakan penganut agama Budha (Rohingnya: The Name, The Movement, and The Quest for Identity - Jacques P Leider). Jika ditelusuri, nenek moyang mereka berasal dari orang Arab, Moor, Pathan, Moghul, Bengali, dan beberapa orang Indo-Mongoloid. Pemukiman Muslim di Arakan telah ada sejak abad ke-7 Masehi. Rohingya tidak dianggap  dalam 135 etnis resmi negara tersebut. Mereka juga ditolak kewarganegaraannya di Myanmar sejak 1982, yang akhirnya membuat mereka tanpa kewarganegaraan di tempat tinggalnya.

MUSLIM ITU BERSAUDARA
Sobat, diriwayatkan dari Ibnu Umar beliau berkata: "Rasulullah bersabda: Seorang muslim itu adalah saudara muslim yang lain. Oleh sebab itu, jangan mendzalimi dan meremehkannya dan jangan pula menyakitinya." (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim). Hadits ini dengan gamblang menyatakan kalo semua muslim itu adalah saudara. Entah dari organisasi apa, suku apa atau dari negara mana. Semua adalah saudara. Terlebih, Rasulullah juga melarang kita untuk meremehkan atau menyakiti sesama muslim.
Sobat, suku Rohingya mereka adalah umat Islam. Meski mereka nan jauh di negara Myanmar, namun mereka tetap saudara kita sesama muslim. Nggak selayaknya kita diam dan cuman jadi penonton melihat penderitaan yang mereka alami. Pertanyaanya sekarang, apa yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka? Apakah kita harus terjun langsung ke sana? Nggak juga kok. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka.

Pertama, dengan doa. Karena bagaimanapun yang namanya doa itu adalah senjatanya orang beriman. Kondisi muslim Rohingya sudah lebih dari cukup buat kita melakukan doa qunut. Agar Allah menyegerakan kebebasan buat saudara-saudara kita di sana. Untaian doa yang mengetuk pintu langit, tetesan air mata, rintihan kesedihan di malam hari bisa  menjadi sarana diringankannya beban saudara-saudara kita muslim Rohingya. Bukankah do’a seorang muslim bidzohril ghoib (tanpa diketahui) termasuk doa yang mustajab? Oleh karena itu, marilah kita senantiasa mendoakan saudara Rohingya kita di setiap kondisi mustajab.

Kedua, membantu dengan harta. Caranya adalah dengan cara menyisihkan sebagian rejeki yang Allah karuniakan untuk membantu saudara-saudara kita di Rohingya. Nggak musti banyak kok, sisihkan aja semampu kita. Dari sebagian uang saku atau gaji yang kita terima. Selanjutnya bisa dititipkan ke lembaga penghimpun donasi yang saat ini juga udah banyak yang memfasilitasi. Di samping donasi dari kantong pribadi, ada baiknya kita juga melakukan gerakan penghimpunan dana untuk mereka. Baik itu dengan bekerja-sama dengan lembaga-lembaga kemanusiaan yang sudah terpercaya ataupun dengan turun ke lampu-lampu merah mengedarkan kardus donasi untuk mereka. Insya Allah, semua tetap akan berbuah pahala di sisi Allah.

Ketiga, share berita tentang genosida terhadap etnis Rohingya. Hari ini banyak sekali media yang bisa kita gunakan untuk share sebuah informasi. Mulai dari facebook, whatsapp hingga blog. Nggak butuh keterampilan khusus, dan juga nggak butuh modal besar kok. Cukup modal kuota. Hari ini pula banyak kita temui berbagai berita yang justru membalikkan fakta atas apa yang menimpa saudara-saudara kita di Rohingya. Dimana dalam berita itu disebutkan kalo muslim Rohingya adalah pembuat kerusuhan. Berita pemutarbalikkan fakta semacam ini tentu sangat berbahaya. Maka, tugas kita adalah meng-counter berita-berita hoax semacam ini.

Sobat, sungguh indah jika kita menilik sebuah perjalanan ukhuwah antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar yang pernah terjalin di masa Rasulullah. Bagaimana kaum Anshar tidak tanggung-tanggung dengan tangan terbuka membantu saudaranya sesama muslim meski mereka dari suku berbeda. Mereka kaum Anshar yang terusir dan teraniaya dari tanah kelahirannya sendiri akhirnya bisa hidup berdampingan harmonis dengan kaum muhajirin. Kenapa ini bisa terjadi? Jawabnya adalah karena mereka menjunjung tinggi yang namanya ukhuwah Islamiyah. Bagaimana dengan kita?  


Sekilas

Hubungi Kami

Video

Video