Header Ads

Header ADS

Sampai Mana Kita Menata Niat?

“Sesungguhnya segala amal perbuatan ditentukan oleh niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya...” (HR. Bukhari & Muslim)

Penggalan hadits di atas menunjukan bahwa setiap orang hanya akan mendapatkan ganjaran atau pahala sesuai dengan niat yang melandasi amal perbuatanya. Niat dalam amal ibadah memiliki peran yang sangat signifikan, karena niat menjadi ukuran diterima atau tidaknya suatu amalan. Jika seorang beramal dengan niat yang baik, ikhlas semata-mata karena Allah, maka amalnya dapat digolongkan sebagai amal yang soleh  dan Allah akan menerima amalan tersebut meski amalan itu kecil di mata manusia. Begitu pula sebaliknya, jika seorang beramal tidak didasari dengan keikhlasan, maka amalan yang ia lakukan adalah amalan yang rusak dan buruk, dan Allah tidak akan menerima amalan tersebut meski amalan itu besar di mata manusia.
Pembahasan ikhlas banyak dijelaskan dalam hadits-hadits Nabi, seperti sabda beliau dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: “Aku tidak butuh kepada sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan dan menyekutukan-Ku dalam amalan tersebut, aku tinggalkan dia bersama sekutunya.” (HR. Muslim)
Dalil tersebut menunjukan wajibnya memurnikan amal ibadah semata hanya karena Allah, sehingga amalan tersebut dapat diterima dan diberi pahala. Konsekuensi logisnya, jika seseorang mengerjakan suatu amalan niatnya dengan niatan selain Allah, maka amalanya menjadi kurang sempurna bahkan rusak.
Memang, tidak mudah menegakan amalan ikhlas, karena pada dasarnya manusia sangatlah lemah. Godaan setan selalu mengintai setiap saat untuk merusak amal-amal kebaikan yang dilakukan seorang hamba. Hingga seorang ulama terkenal, Sufyan ats-Tsauri pernah berkata, “Suatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia berubah-ubah.”
Begitu rawanya hati kita menegakkan amal dengan ikhlas. Karenanya kita perlu mengolah manjemen hati agar dapat tetap khusnul khatimah hingga ajal menjemput.Oleh karena itu mari kita selalu berdoa kepada Allah agar dilapangakan hati kita dan tentunya selalu berusaha untuk belajar ikhlas atas apa-apa yang kita kerjakan.
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Q.S. Al-Bayyinah [98]: 5
 

Diberdayakan oleh Blogger.